Senin, 16 Januari 2017

EKONOMI


1.    Strategi Pengendalian Biya Produksi
Biaya produksi adalah semua pengeluaran perusahaan untuk memperoleh faktor-faktor produksi yang akan digunakan untuk menghasilkan barang-barang produksi oleh perusahaan tersebut. Untuk analisis biaya produksi perlu diperhatikan dua jangka waktu,yaitu :
1.    jangka panjang, yaitu jangka waktu di mana semua faktor produksi dapat mengalami perubahan dan
2.    jangka pendek, yaitu jangka waktu dimana sebagian faktor produksi dapat berubah dan sebagian lainnya tidak dapat berubah. Dalam bab ini hanya dibahas biaya produksi jangka pendek.
Biaya produksi dapat dibedakan ke dalam dua macam, yaitu :
1.    Biaya tetap (fixedcost) dan
2.    Biaya variabel (variable cost).
Menurut obyek pengeluarannya, secara garis besar biaya produksi ini dibagi menjadi :


 v  Biaya bahan baku. (prime cost). Biaya yang dikeluarkan terkait dengan bahan baku pembuatan produk
 v  Biaya tenaga kerja langsung (prime cost). Biaya yang dikeluarkan dapat diperhitungkan secara langsung terhadap aktifitas tingkatan produksi. Biaya ini juga mudah untuk teridentifikasi karena besar kecilnya biaya ini terkait pada aktifitas produksi, contoh biaya tenaga kerja langsung : Upah Buruh Pabrik, Upah Buruh angkut, Upah Buruh Potong, Upah buruh adonan & Upah Lain-lain 
 v  Biaya overhead pabrik / konversi (convertion cost). Contoh BOP antara lain; 
·         Tenaga kerja tidak langsung : Biaya yang dikeluarkan tidak dapat diperhitungkan secara langsung terhadap aktifitas produksi. Gaji Karyawan yang bekerja dalam departemen pembantu, seperti departemen-departemen pembangkit tenaga listrik, uap, bengkel dan depertemen gudang. Karyawan tertentu yang bekerja dalam departemen produksi, seperti kepala departemen produksi, karyawan adminstrasi pabrik, dan mandor.
·         Biaya bahan mentah tidak langsung (bahan penolong) Biaya Reparasi dan Pemeliharaan : biaya reparasi dan pemeliharaan berupa biaya suku cadang (spareparts), biaya bahan habis pakai (factory supplies) dan harga perolehan jasa dari pihak luar perusahaan untuk keperluan perbaikan dan pemeliharaan emplasemen, perumahan, bangunan pabrik, mesin-mesin dan equipmen, kendaraan, perkakas laboraturium, dan aktiva tetap lain yang digunakan untuk keperluan pabrik.
·         Biaya yang timbul sebagai akibat penilaian terhadap aktiva tetap : Biaya-biaya yang termasuk dalam kelompok ini antara lain adalah biaya-biaya depresiasi emplasemen pabrik, bangunan pabrik, mesin dan equipmen, perkakas laboraturium, alat kerja dan aktiva tetap lain yang digunakan di pabrik.
·         Biaya yang timbul sebagai akibat berlalunya waktu : Biaya-biaya yang termasuk dalam kelompok ini antara lain adalah biaya-biaya asuransi gedung dan emplasemen, asuransi mesin dan equipmen, asuransi kendaraan, asuransi kecelakaan karyawan, dan biaya amortisasi karugian trial-run.
    ·          Biaya overhead pabrik lain yang secara langsung memerlukan pengeluaran uang tunai Biaya overhead pabrik yang termasuk dalam kelompok ini antara lain adalah biaya reparasi yang diserahkan kepada pihak luar perusahaan, biaya listrik PLN dan sebagainya Oleh karena begitu banyaknya jenis biaya-biaya yang terjadi di dalam pabrik, maka memerlukan perhatian khusus. Untuk merencanakan besarnya dana yang harus dianggarkan untuk anggaran biaya overhead pabrik, terdapat dua masalah pokok yang perlu perhatian khusus yakni penanggungjawab perencanaan biaya.  

Menurut Garrison (2003:97), pengendalian adalah proses penentuan, apa yang dicapai yaitu standar, apa yang sedang dilakukan yaitu pelaksanaan, menilai pelaksanaan yaitu perbaikan, sehingga pelaksanaan sesuai dengan rencana yaitu selaras dengan standar.
Menurut Mulyadi (2001:501), untuk melakukan pengendalian biaya di dalam perusahaan tergantung pada besar kecilnya perusahaan tersebut, dan telah berkembang melalui lima tahapan, yaitu:
a. Pengendalian biaya dengan pengawasan fisik Dalam perusahaan kecil biasanya pimpinan sekaligus pemilik perusahaan, perencanaan dan pengendalian terhadap pelaksanaan rencana dilakukan secara langsung oleh pimpinan perusahaan. Pimpinan perusahaan memiliki kemampuan yang memadai untuk merencanakan dan mengendalikan kegiatannya
b. Pengendalian biaya dengan menggunakan catatan akuntansi historis Jika perusahaan berkembang, maka pimpinan perusahaan tidak lagi dapat mengamati secara fisik, tetapi memerlukan catatan historis untuk merencanakan dan mengendalikan kegiatannya dari periode ke periode. Untuk tingkat perkembangan tertentu pimpinan perusahaan cukup melakukan pernecanaan dan pengendalian dengan membandingkan catatan historis dari tahun ke tahun.
 c. Pengendalian biaya dengan menggunakan anggaran statis dan biaya standar Jika perusahaan semakin berkembang, pimpinan perusahaan tidak lagi menghadapi masalah bagaimana pelaksanaan kegiatan pada tahun berjalan jika dibandingkan dengan apa yang telah dilaksanakan pada tahun sebelumnya tetapi bagaimana pelaksanaan pada tahun berjalan jika dibandingkan dengan yang seharusnya dilaksanakan pada tahun tersebut. Pada tingkat perkembangan ini, pimpinan memerlukan anggaran dan standar sebagai alat untuk merencanakan dan mengendalikan kegiatannya. Pimpinan perusahaan mulai memperbaiki sistem perencanaan dan pengendalian kegiatannya dengan membuat anggaran statis dan biaya yang sederhana.
d. Pengendalian biaya dengan menggunakan anggaran fleksibel dengan biaya standar Dalam kenyataannya kapasitas yang direalisasikan seringkali menyimpang dari kapasitas yang direncanakan. Maka, cara perencanaan dan pengendalian kegiatan perusahaan kemudian diperbaiki dengan mengembangkan anggaran fleksibel dengan biaya standar. Anggaran fleksibel disusun untuk berbagai tingkat kapasitas yang direncanakan, sehingga anggaran ini menyediakan tolok ukur prestasi yang mendekati kapasitas sesungguhnya yang dicapai.
e. Pengendalian biaya dengan pembuatan pusat-pusat pertanggung jawaban dan penerapan sistem akuntansi pertanggung jawaban

Beberapa strategi pengendalian biaya produksi dapat menggunakan skenario berikut :
 •    Pertama, biaya harus dipandang sebagai keuntungan potensial (potential profit), bukan sekedar pengeluaran atau ongkos produksi yang memang harus dikeluarkan. dengan demikian reduksi biaya produksi melalui peningkatan efisiensi akan meningkatkan keuntungan. 
•    Setelah persepsi tentang biaya produksi diatas berubah, manajemen harus melaksanakan aktivitas produksi bernilai tambah (bukan sekedar mengubah input menjadi output) dengan jalan berproduksi pada biaya produksi yang minimum. Dengan cara ini perusahaan akan meningkatkan daya saing melalui strategi penetapan harga (pricing strategy) yang kompetitif di pasar.
•    Keunggulan kompetitif produk dipasar akan meningkatkan pangsa pasar (market share) yang berarti akan meningkatkan penerimaan total (TR) dari penjualan produk itu.
•    Strategi reduksi biaya produksi dan penetapan harga produk yang kompetitif dipasar akan meningkatkan keuntungan perusahaan, karena keuntungan perusahaan adalah benefit antara TR dan Total Cost (TC).
•    Dengan demikian strategi di atas harus dilakukan melalui scenario :
1). melaksanakan aktivitas produksi pada tingkat biaya produksi minimum,
2). Menetapkan harga produk yang kompetitif di pasar,
3). memperluas pangsa pasar (market share) melalui keunggulan kompetitif (meningkatkan daya saing terus menerus),
4). memperoleh penerimaan total (TR) yang terus meningkat,
5). memperoleh keuntungan (net benefit) yang terus meningkat,
6). meningkatkan kesejahteraan bagi stakeholders
Kesimpulan berkaitan dengan teori biaya produksi yaitu :
v  Biaya tetap total (TFC) tidak bergantung pada kuantitas output (Q), sedangkan biaya variabe total bergantung pada kuantitas output (Q)
Biaya tetap rata-rata (AFC) menurun secara kontinyu sampai mendekati garis horisontal, karena AFC = TFC / Q.v
Kurva AVC menurun mencapai minimum untuk kemudian mengalami peningkatan karena AVC = TVC / Q.v
Total Cost (TC) merupakan penjumlahan dari biaya TFC dan TVC karena TC = TFC + TVC.v
ATC mula-mula akan turun kemudian akan meningkat karena ATC = TC / Q.v
v  SMC mula-mula menurun mencapai minimum pada kuantitas output tertentu dan kemudian akan naik (catatan biasanya SMC akan selalu memotong kurva AVC) karena SMC = dTC / dQ (baca d=delta)
Jika SMCv < AVC, maka AVC menurun, Jika SMC>AVC maka AVC meningkat dan jika SMC = AVC maka AVC minimum.
Jika SMCvATC maka ATC meningkat dan jika SMC = ATC, maka ATC minimum.

   2.    Variabel Biaya

Biaya produksi didefinisikan sebagai semua pengeluaran yang dilakukan oleh perusahaan untuk memperoleh faktor-faktor produksi dan bahan-bahan mentah yang digunakan untuk menciptakan barang-barang yang diproduksi oleh perusahaan tersebut.
Analisis di dalam biaya produksi harus dibedakan menjadi dua jangka waktu, yaitu biaya produksi jangka pendek dan biaya produksi jangka panjang. Biaya produksi yang dikeluarkan oleh perusahaan dibedakan menjadi dua bagian pula, yaitu:

1. biaya eksplisit, yaitu pengeluaran-pengeluaran perusahaan yang berupa pembayaran dengan uang (cek) untuk mendapatkan faktor-faktor produksi dan bahan mentah yang dibutuhkan oleh perusahaan untuk menghasilkan produk barang ataupun jasa,

2. biaya tersembunyi (imputed costs), yaitu taksiran pengeluaran atas faktor-faktor produksi yang dimiliki oleh perusahaan. 

1.       Jangka pendek, yaitu jangka waktu dimana perusahaan telah dapat menambah faktor-faktor    
produksi yang digunakan dalam proses produksi.
Biaya dalam waktu jangka pendek terdiri atas:
1. Dalam hubungannya dengan tujuan biaya:
       a. Biaya Langsung (Direct Cost)
                       Biaya Langsung merupakan biaya-biaya yang dapat diidentifikasi secara langsung       
pada suatu proses tertentu ataupun output tertentu. Sebagai contoh adalah biaya   
bahan baku langsung dan tenaga kerja yang dibutuhkan oleh perusahaan. Begitu
juga dengan supervise, listrik, dan biaya overhead lainnya dapat langsung ditelusuri
pada departemen tertentu.
b. Biaya Tidak Langsung (Indirect Cost)
                Biaya Tidak Langsung merupakan biaya-biaya yang tidak dapat diidentifikasi secara
langsung pada suatu proses tertentu atau output tertentu, misalnya biaya lampu
penerangan dan Air Conditioning pada suatu fasilitas.
2. Dalam hubungannya dengan perubahan volume kegiatan:
                a. Biaya Total (Total Cost) / TC
                                Biaya total merupakan jumlah keseluruhan biaya produksi yang dikeluarkan
perusahaan yang terdiri dari biaya tetap dan biaya variabel.
Biaya total dapat dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut:
                TC = FC + VC
                Contoh:
                Diketahui : FC = Rp 120.000,00 VC = Rp 240.000,00
                Ditanya : TC = …
                Penyelesaian : TC = FC + VC
                = 120.000 + 240.000
                = 360.000
b. Biaya Variabel (Variabel Cost) / VC
                Biaya variabel merupakan biaya yang berubah secara linier sesuai dengan volume    


output operasi perusahaan. Sebagai contoh adalah biaya pulsa telepon bulanan,     
biaya pengeluaran untuk upah dan bahan baku.
                Biaya variabel dapat dihitung dari penurunan rumus menghitung biaya total, yaitu:     
                                TC = FC + VC
                                VC = TC - FC
                                Contoh:
                                Diketahui: FC = 120.000 TC = 480.000
                                Ditanya : VC = …
                                Penyelesaian: TC = FC + VC
                                480.000 = 120.000 + VC
                                VC = 480.000 – 120.000
                                = 360.000
c. Biaya Tetap (Fixed Cost) / FC
                Biaya tetap merupakan biaya yang tidak berubah mengikuti tingkat produksi. Sebagai contoh adalah biaya peneliharaan pabrik dan asuransi, biaya abonemen telepon bulanan. Biaya tetap dapat dihitung sama seperti biaya variabel, yaitu dari penurunan rumus menghitung biaya total. Penuruanan rumus tersebut, adalah: TC = FC + VC
                FC = TC – VC
                Contoh:
                Diketahui: VC = 600.000 TC = 720.000
                Ditanya : FC = …
                Penyelesaian: TC = FC + VC
                720.000= FC + 600.000
                FC = 720.000 – 600.000
                     = 120.000
d. Biaya Total Rata-Rata (Average Total Cost) / ATC
                Biaya total rata-rata merupakan biaya yang apabila biaya total (TC) untuk memproduksi sejumlah barang tertentu (Q) dibagi dengan jumlah produksi oleh perusahaan. Biaya total rata-rata dapat dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut, yaitu:
ATC = atau ATC = AFC + AVC
                Contoh:
                Diketahui: TC = 360.000 Q = 3
                AFC = 40.000 AVC = 80.000
                Ditanya : ATC = …
                Penyelesaian: ATC = ATC = AFC + AVC
                = atau = 40.000 + 80.000
                = 120.000 = 120.000
                Dengan menggunakan kedua rumus di atas, maka telah diketahui bahwa hasilnya     
adalah sama, yaitu Rp 120.000,00.
e. Biaya Variabel Rata-Rata (Average Variabel Cost) / AVC
                    Biaya variabel rata-rata merupakan biaya yang apabila biaya variabel (VC) untuk  
memproduksi sejumlah baran (Q) dibagi dengan jumlah produksi tertentu. Biaya  
variabel rata-rata dapat dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut, yaitu: AVC =
f. Biaya Tetap Rata-Rata (Average Fixed Cost) / AFC
                Biaya tetap rata-rata merupakan biaya yang apabila biaya tetap (FC) untuk  memproduksi sejumlah barang tertentu (Q) dibagi dengan jumlah produksi tersebut.



Contoh kurva biaya rata-rata

3. Dalam hubungannya dengan keputusan-keputusan manajemen:
                a. Biaya Marginal (Marginal Cost) / MC
                                Biaya marginal dapat juga dikatakan sebagai biaya pertambahan 
                    (incrementalcost).  
                    Biaya marginal merupakan kenaikan biaya produksi yang dikeluarkan untuk   
               menambah produksi sebanyak satu unit keluaran tambahan. Biaya marginal dapat      
dihitung dengan menggunakan rumus: Rumus : MC = ∆TC/∆Q = ∆TVC/∆Q
                Jumlah Produksi Biaya Variabel
                15 600.000
                19 720.000
                Contoh:
                                Maka cara menghitung biaya marginal dari tabel di atas adalah :
                                MC = = 30.000
                                Jadi, biaya marginalnya adalah 30.000.

contoh tabel marginal cost.

b. Biaya Kesempatan (Opportunity Cost) / OC
                                Biaya kesempatan merupakan biaya atas kesempatan yang dilepas dengan    
tidak menempatkan sumber daya perusahaan pada nilai pemanfaatan tertingginya  atau merupakan pendapatan biaya yang dikorbankan sebagai akibat kita memilih alternatif tertentu.
Sebagai contoh:

                                Apabila Umar kuliah sampai selesai di universitas LP3I, maka pendapatan yang    
               diperkirakan adalah Rp 700.000,00/bulan.
                Sedangkan apabila tidak kuliah dan memutuskan untuk meneruskan usaha ayahnya,         
maka pendapatan yang diperkirakan adalah Rp 2.000.000,00.
Bila akhirnya memilih meneruskan usaha ayahnya maka biaya kesempatan yang dikorbankannya adalah Rp 700.000,00.
Tentu saja Ali lebih suka tidak kuliah dan meneruskan usaha ayahnya, bila pendapatan yang diperkirakan jauh lebih besar dari alternatif kuliah.

c. Biaya Terbenam (Sunk Cost)
                Biaya terbenam merupakan biaya atau pengeluaran yang apabila sudah dikeluarkan tidak dapat diperoleh kembali. Biaya ini terjadi apabila terdapat perbedaan antara  nilai buku dari suatu asset (misalnya mensin-mesin bangunan) dengan nilai sebenarnya ketika asset tersebut dijual. Perbedaan dimana nilai jual asset sebenarnya lebih rendah dari nilai buku dapat juga disebut sebagai biaya terbenam.
Walau demikian, kondisi ini diharapkan tidak mempengaruhi kebijakan untuk penggantian mesin-mesin yang didasarkan pada biaya-biaya yang sebenarnya. Sebagai contoh:
Pada tahun kelima penggunaan suatu mesin mempunyai nilai buku secara akuntansi sebesar Rp 12 juta.
Tetapi, nilai jual sebenarnya ternyata hanyalah Rp 8 juta.
Perbedaan sebesar Rp 4 juta tersebut adalah biaya terbenam yang seharusnya tidak mempengaruhi keputusan penggantian mesin tersebut dengan mesin yang lebih efisien pada tahun kelima pemakaian mesin tersebut.
(Asumsi : umur ekonomis mesin adalah 5 tahun).

Berikut merupakan kurva dan tabel berbagai pengertian ongkos produksi jangka pendek.




Jum-lah Produk-si Biaya Tetap Biaya Variabel Biaya Total Biaya Tetap Rata-Rata Biaya Variabel .
v  Rata-Rata Biaya Total Rata-Rata Biaya Marginal


2. Biaya Produksi Jangka Panjang.
       Jangka panjang, yaitu jangka waktu di mana semua faktor produksi dapat mengalami perubahan, yaitu jumlah daripada faktor-faktor produksi yang digunakan oleh perusahaan dapat ditambah apabila memang dibutuhkan. Faktor-faktor produksi tersebut adalah: faktor pasar, faktor bahan mentah, faktor fasilitas angkutan, dan faktor tenaga kerja. 

Untuk menjelaskan konsep biaya jangka panjang yang diturunkan dari jalur perluasan jangka panjang, perhatikan contoh berikut. Bayangkan bahwa suatu perusahaan tertentu hanya menggunakan dua jenis input, yaitu input modal (K), dan input tenaga kerja (L). 

Perusahaan mula-mula menggunakan kombinasi input K dan L yang optimum yaitu : K=7 dan L=10 untuk memproduksi output sebesar Q1=100 unit.
Harga dari setiap input modal dan tenaga kerja, masing-masing adalah sebesar: r=$10 per unit modal, dan w = $5 per unit tenaga kerja.
Dengan demikian pada tingkat produksi Q1=100 unit, perusahaan mengeluarkan biaya total jangka panjang (LTC) = Rk + wL = ($10)(7) + ($5)(10) = $120.
Serupa dengan konsep biaya jangka pendek, kita dapat menghitung biaya rata-rata jangka panjang (LAC) dan biaya marginal jangka panjang (LMC).

Dengan konsep serupa perusahaan terus berkembang dalam usaha atau produksi melalui beroperasi pada titik-titik keseimbangan produsen yang meminimumkan biaya penggunaan input-input. Garis yang menghubungkan titik-titik keseimbangan produsen sepanjang waktu ini desebut sebagai jalur perluasan jangka panjang.

3.Pengambilan keputusan dalam manajemen produksi
               
Manajemen produksi merupakan salah satu bagian dari bidang manajemen yang mempunyai peran dalam mengoordinasi kan berbagai kegiatan untuk mencapai tujuan. Untuk mengatur kegiatan ini, perlu dibuat keputusan-keputusan yang berhubungna dengan usaha-usaha untuk mencapai tujuan agar barang dan jasa yang dihasilkan sesuai dengan apa yang direncanakan. Dengan demikian, manajemen produksi menyangkut pengambilan keputusan yang berhubungan dengan proses produksi untuk mencapai tujuan organisasi atau perusahaan.
Fungsi dan Sistem Produksi dan Operasi
·                     Perencana produksi
Bertujuan agar dilakukanya persiapan yang sistematis bagi produksi yang akan dijalankan. Keputusan yang harus dihadapi dalam perencanaan produksi:
1.            Jenis barang yang diproduksi
2.            Kualitas barang
3.            Jumlah barang
4.            Bahan baku
5.            Pengendalian produksi
·                     Pengendalian produksi
Bertujuan agar mencapai hasil yang maksimal demi biaya seoptimal mungkin. Adapun kegiatan yang dilakukan antara lain :
1.            Menyusun perencanaan
2.            Membuat penjadwalan kerja
3.            Menentukan kepada siapa barang akan dipasarkan.
·                     Pengawasan produksi
Bertujuan agar pelaksanaan kegiatan dapat berjalan sesuai dengan rencana. Kegiatanya meliputi :

1.           
Menetapkan kualitas
2.            Menetapkan standar barang
3.            Pelaksanaan prouksi yang tepat waktu




  4.    PASAR
adalah tempat bertemunya penjual dan pembeli. Transaksi jual-beli yang terjadi tidak    selalu memerlukan lokasi fisik. Pasar yang dimaksud bisa merujuk kepada suatu negara tempat suatu barang dijual dan dipasarkan.

* Struktur pasar
adalah berbagai hal yang dapat mempengaruhi tingkah laku dan kinerja perusahaan dalam pasar, antara lain jumlah perusahaan dalam pasar, skala produksi, dan jenis produksi. Suatu struktur pasar dikatakan kompetitif jika perusahaan tersebut tidak mempunyai kemampuan untuk mempengaruhi harga dan jumlah barang di pasar. Semakin lemah kemampuan perusahaan untuk mempengaruhi pasar, semakin kompetitif struktur pasarnya.

1.       PASAR PERSAINGAN SEMPURNA
Pada pasar ini, kekuatan permintaan dan kekuatan penawaran dapat bergerak secara leluasa. Harga yang terbentuk benar-benar mencerminkan keinginan produsen dan konsumen. Permintaan mencerminkan keinginan konsumen, sementara penawaran mencerminkan keinginan produsen atau penjual.


Berikut adalah ciri-ciri pasar persaingan sempurna :
1. Jumlah Pembeli dan Penjual Banyak. 
2.Barang dan Jasa yang Diperjualbelikan Bersifat Homogen. 
3. Faktor Produksi Bebas Bergerak.
4. Pembeli dan Penjual Mengetahui Keadaan Pasar Pasar.
5. Produsen Bebas Keluar Masuk Pasar Pasar.
6. Bebas dari Campur Tangan Pemerintah.

2.                   PASAR PERSAINGAN TIDAK SEMPURNA
Pasar persaingan tidak sempurna adalah pasar di mana terdapat satu atau beberapa penjual yang menguasai pasar atau harga, serta satu atau beberapa pembeli yang menguasai pasar atau harga. Jika suatu perusahaan dapat mempengaruhi harga pasar, maka pasar tempat perusahaan itu menjual produknya digolongkan sebagai pasar persaingan yang tidak sempurna. Keberadaan sejumlah pihak yang menguasai pasar atau harga akan melahirkan keberagaman bentuk-bentuk
Pasar persaingan sempurna jarang kita jumpai, yang seringkali kita jumpai adalah pasar persaingan tidak sempurna ( imperfect competition market). 

3.       PASAR MONOPOLI
Kata monopoli berasal dari bahasa Yunani, mono, yang artinya satu, dan poli, yang artinya penjual. Dari dua kata tersebut maka monopoli menunjuk pada suatu kondisi di mana dalam suatu pasar hanya ada satu penjual, sehingga tidak ada pihak lain yang menyaingi.

Dalam monopoli, penjual tersebut adalah satu-satunya produsen dalam industri, dan tidak ada industri lain yang memproduksi barang subtitusinya.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar