1. Strategi Pengendalian Biya Produksi
Biaya produksi adalah semua
pengeluaran perusahaan untuk memperoleh faktor-faktor produksi yang akan
digunakan untuk menghasilkan barang-barang produksi oleh perusahaan tersebut.
Untuk analisis biaya produksi perlu diperhatikan dua jangka waktu,yaitu :
1. jangka panjang, yaitu jangka waktu di mana semua faktor produksi dapat mengalami perubahan dan
2. jangka pendek, yaitu jangka waktu dimana sebagian faktor produksi dapat berubah dan sebagian lainnya tidak dapat berubah. Dalam bab ini hanya dibahas biaya produksi jangka pendek.
Biaya produksi dapat dibedakan ke dalam dua macam, yaitu :
1. Biaya tetap (fixedcost) dan
2. Biaya variabel (variable cost).
1. jangka panjang, yaitu jangka waktu di mana semua faktor produksi dapat mengalami perubahan dan
2. jangka pendek, yaitu jangka waktu dimana sebagian faktor produksi dapat berubah dan sebagian lainnya tidak dapat berubah. Dalam bab ini hanya dibahas biaya produksi jangka pendek.
Biaya produksi dapat dibedakan ke dalam dua macam, yaitu :
1. Biaya tetap (fixedcost) dan
2. Biaya variabel (variable cost).
Menurut
obyek pengeluarannya, secara garis besar biaya produksi ini dibagi menjadi :
v
Biaya bahan baku. (prime cost). Biaya
yang dikeluarkan terkait dengan bahan baku pembuatan produk
v
Biaya tenaga kerja langsung (prime cost).
Biaya yang dikeluarkan dapat diperhitungkan secara langsung terhadap aktifitas tingkatan
produksi. Biaya ini juga mudah untuk teridentifikasi karena besar kecilnya
biaya ini terkait pada aktifitas produksi, contoh biaya tenaga kerja langsung :
Upah Buruh Pabrik, Upah Buruh angkut, Upah Buruh Potong, Upah buruh adonan
& Upah Lain-lain
v
Biaya overhead pabrik / konversi
(convertion cost). Contoh BOP antara lain;
·
Tenaga kerja tidak langsung : Biaya yang
dikeluarkan tidak dapat diperhitungkan secara langsung terhadap aktifitas
produksi. Gaji Karyawan yang bekerja dalam departemen pembantu, seperti
departemen-departemen pembangkit tenaga listrik, uap, bengkel dan depertemen
gudang. Karyawan tertentu yang bekerja dalam departemen produksi, seperti
kepala departemen produksi, karyawan adminstrasi pabrik, dan mandor.
·
Biaya bahan mentah tidak langsung (bahan
penolong) Biaya Reparasi dan Pemeliharaan : biaya reparasi dan
pemeliharaan berupa biaya suku cadang (spareparts), biaya bahan habis pakai
(factory supplies) dan harga perolehan jasa dari pihak luar perusahaan untuk
keperluan perbaikan dan pemeliharaan emplasemen, perumahan, bangunan pabrik,
mesin-mesin dan equipmen, kendaraan, perkakas laboraturium, dan aktiva tetap
lain yang digunakan untuk keperluan pabrik.
·
Biaya yang timbul sebagai akibat penilaian
terhadap aktiva tetap : Biaya-biaya yang termasuk dalam kelompok ini
antara lain adalah biaya-biaya depresiasi emplasemen pabrik, bangunan pabrik,
mesin dan equipmen, perkakas laboraturium, alat kerja dan aktiva tetap lain
yang digunakan di pabrik.
·
Biaya yang timbul sebagai akibat berlalunya
waktu : Biaya-biaya yang termasuk dalam kelompok ini antara lain adalah
biaya-biaya asuransi gedung dan emplasemen, asuransi mesin dan equipmen,
asuransi kendaraan, asuransi kecelakaan karyawan, dan biaya amortisasi karugian
trial-run.
· Biaya overhead pabrik lain yang secara langsung
memerlukan pengeluaran uang tunai Biaya overhead pabrik yang termasuk
dalam kelompok ini antara lain adalah biaya reparasi yang diserahkan kepada
pihak luar perusahaan, biaya listrik PLN dan sebagainya Oleh karena begitu
banyaknya jenis biaya-biaya yang terjadi di dalam pabrik, maka memerlukan
perhatian khusus. Untuk merencanakan besarnya dana yang harus dianggarkan untuk
anggaran biaya overhead pabrik, terdapat dua masalah pokok yang perlu perhatian
khusus yakni penanggungjawab perencanaan biaya.
Menurut Garrison (2003:97),
pengendalian adalah proses penentuan, apa yang dicapai yaitu standar, apa yang
sedang dilakukan yaitu pelaksanaan, menilai pelaksanaan yaitu perbaikan,
sehingga pelaksanaan sesuai dengan rencana yaitu selaras dengan standar.
Menurut Mulyadi (2001:501), untuk
melakukan pengendalian biaya di dalam perusahaan tergantung pada besar kecilnya
perusahaan tersebut, dan telah berkembang melalui lima tahapan, yaitu:
a. Pengendalian biaya dengan
pengawasan fisik Dalam perusahaan kecil biasanya pimpinan sekaligus pemilik
perusahaan, perencanaan dan pengendalian terhadap pelaksanaan rencana dilakukan
secara langsung oleh pimpinan perusahaan. Pimpinan perusahaan memiliki
kemampuan yang memadai untuk merencanakan dan mengendalikan kegiatannya
b. Pengendalian biaya dengan
menggunakan catatan akuntansi historis Jika perusahaan berkembang, maka
pimpinan perusahaan tidak lagi dapat mengamati secara fisik, tetapi memerlukan
catatan historis untuk merencanakan dan mengendalikan kegiatannya dari periode
ke periode. Untuk tingkat perkembangan tertentu pimpinan perusahaan cukup
melakukan pernecanaan dan pengendalian dengan membandingkan catatan historis
dari tahun ke tahun.
c. Pengendalian biaya dengan menggunakan
anggaran statis dan biaya standar Jika perusahaan semakin berkembang, pimpinan
perusahaan tidak lagi menghadapi masalah bagaimana pelaksanaan kegiatan pada
tahun berjalan jika dibandingkan dengan apa yang telah dilaksanakan pada tahun
sebelumnya tetapi bagaimana pelaksanaan pada tahun berjalan jika dibandingkan
dengan yang seharusnya dilaksanakan pada tahun tersebut. Pada tingkat
perkembangan ini, pimpinan memerlukan anggaran dan standar sebagai alat untuk
merencanakan dan mengendalikan kegiatannya. Pimpinan perusahaan mulai
memperbaiki sistem perencanaan dan pengendalian kegiatannya dengan membuat
anggaran statis dan biaya yang sederhana.
d. Pengendalian biaya dengan
menggunakan anggaran fleksibel dengan biaya standar Dalam kenyataannya
kapasitas yang direalisasikan seringkali menyimpang dari kapasitas yang
direncanakan. Maka, cara perencanaan dan pengendalian kegiatan perusahaan
kemudian diperbaiki dengan mengembangkan anggaran fleksibel dengan biaya
standar. Anggaran fleksibel disusun untuk berbagai tingkat kapasitas yang
direncanakan, sehingga anggaran ini menyediakan tolok ukur prestasi yang
mendekati kapasitas sesungguhnya yang dicapai.
e. Pengendalian biaya dengan
pembuatan pusat-pusat pertanggung jawaban dan penerapan sistem akuntansi
pertanggung jawaban
Beberapa strategi pengendalian biaya produksi dapat menggunakan skenario berikut :
• Pertama, biaya harus dipandang sebagai keuntungan potensial (potential profit), bukan sekedar pengeluaran atau ongkos produksi yang memang harus dikeluarkan. dengan demikian reduksi biaya produksi melalui peningkatan efisiensi akan meningkatkan keuntungan.
Beberapa strategi pengendalian biaya produksi dapat menggunakan skenario berikut :
• Pertama, biaya harus dipandang sebagai keuntungan potensial (potential profit), bukan sekedar pengeluaran atau ongkos produksi yang memang harus dikeluarkan. dengan demikian reduksi biaya produksi melalui peningkatan efisiensi akan meningkatkan keuntungan.
• Setelah persepsi tentang biaya produksi diatas
berubah, manajemen harus melaksanakan aktivitas produksi bernilai tambah (bukan
sekedar mengubah input menjadi output) dengan jalan berproduksi pada biaya
produksi yang minimum. Dengan cara ini perusahaan akan meningkatkan daya saing
melalui strategi penetapan harga (pricing strategy) yang kompetitif di pasar.
• Keunggulan kompetitif produk dipasar akan meningkatkan pangsa pasar (market share) yang berarti akan meningkatkan penerimaan total (TR) dari penjualan produk itu.
• Strategi reduksi biaya produksi dan penetapan harga produk yang kompetitif dipasar akan meningkatkan keuntungan perusahaan, karena keuntungan perusahaan adalah benefit antara TR dan Total Cost (TC).
• Dengan demikian strategi di atas harus dilakukan melalui scenario :
1). melaksanakan aktivitas produksi pada tingkat biaya produksi minimum,
2). Menetapkan harga produk yang kompetitif di pasar,
3). memperluas pangsa pasar (market share) melalui keunggulan kompetitif (meningkatkan daya saing terus menerus),
4). memperoleh penerimaan total (TR) yang terus meningkat,
5). memperoleh keuntungan (net benefit) yang terus meningkat,
6). meningkatkan kesejahteraan bagi stakeholders
Kesimpulan berkaitan dengan teori biaya produksi yaitu :
v Biaya tetap total (TFC) tidak bergantung pada kuantitas output (Q), sedangkan biaya variabe total bergantung pada kuantitas output (Q)
Biaya tetap rata-rata (AFC) menurun secara kontinyu sampai mendekati garis horisontal, karena AFC = TFC / Q.v
Kurva AVC menurun mencapai minimum untuk kemudian mengalami peningkatan karena AVC = TVC / Q.v
Total Cost (TC) merupakan penjumlahan dari biaya TFC dan TVC karena TC = TFC + TVC.v
ATC mula-mula akan turun kemudian akan meningkat karena ATC = TC / Q.v
v SMC mula-mula menurun mencapai minimum pada kuantitas output tertentu dan kemudian akan naik (catatan biasanya SMC akan selalu memotong kurva AVC) karena SMC = dTC / dQ (baca d=delta)
Jika SMCv < AVC, maka AVC menurun, Jika SMC>AVC maka AVC meningkat dan jika SMC = AVC maka AVC minimum.
Jika SMCvATC maka ATC meningkat dan jika SMC = ATC, maka ATC minimum.
• Keunggulan kompetitif produk dipasar akan meningkatkan pangsa pasar (market share) yang berarti akan meningkatkan penerimaan total (TR) dari penjualan produk itu.
• Strategi reduksi biaya produksi dan penetapan harga produk yang kompetitif dipasar akan meningkatkan keuntungan perusahaan, karena keuntungan perusahaan adalah benefit antara TR dan Total Cost (TC).
• Dengan demikian strategi di atas harus dilakukan melalui scenario :
1). melaksanakan aktivitas produksi pada tingkat biaya produksi minimum,
2). Menetapkan harga produk yang kompetitif di pasar,
3). memperluas pangsa pasar (market share) melalui keunggulan kompetitif (meningkatkan daya saing terus menerus),
4). memperoleh penerimaan total (TR) yang terus meningkat,
5). memperoleh keuntungan (net benefit) yang terus meningkat,
6). meningkatkan kesejahteraan bagi stakeholders
Kesimpulan berkaitan dengan teori biaya produksi yaitu :
v Biaya tetap total (TFC) tidak bergantung pada kuantitas output (Q), sedangkan biaya variabe total bergantung pada kuantitas output (Q)
Biaya tetap rata-rata (AFC) menurun secara kontinyu sampai mendekati garis horisontal, karena AFC = TFC / Q.v
Kurva AVC menurun mencapai minimum untuk kemudian mengalami peningkatan karena AVC = TVC / Q.v
Total Cost (TC) merupakan penjumlahan dari biaya TFC dan TVC karena TC = TFC + TVC.v
ATC mula-mula akan turun kemudian akan meningkat karena ATC = TC / Q.v
v SMC mula-mula menurun mencapai minimum pada kuantitas output tertentu dan kemudian akan naik (catatan biasanya SMC akan selalu memotong kurva AVC) karena SMC = dTC / dQ (baca d=delta)
Jika SMCv < AVC, maka AVC menurun, Jika SMC>AVC maka AVC meningkat dan jika SMC = AVC maka AVC minimum.
Jika SMCvATC maka ATC meningkat dan jika SMC = ATC, maka ATC minimum.
2.
Variabel Biaya
Biaya produksi didefinisikan sebagai semua pengeluaran yang dilakukan oleh perusahaan untuk memperoleh faktor-faktor produksi dan bahan-bahan mentah yang digunakan untuk menciptakan barang-barang yang diproduksi oleh perusahaan tersebut.
Analisis di dalam biaya produksi harus dibedakan menjadi dua jangka waktu, yaitu biaya produksi jangka pendek dan biaya produksi jangka panjang. Biaya produksi yang dikeluarkan oleh perusahaan dibedakan menjadi dua bagian pula, yaitu:
1. biaya eksplisit, yaitu pengeluaran-pengeluaran perusahaan yang berupa pembayaran dengan uang (cek) untuk mendapatkan faktor-faktor produksi dan bahan mentah yang dibutuhkan oleh perusahaan untuk menghasilkan produk barang ataupun jasa,
2. biaya tersembunyi (imputed costs), yaitu taksiran pengeluaran atas faktor-faktor produksi yang dimiliki oleh perusahaan.
1.
Jangka pendek, yaitu jangka waktu dimana
perusahaan telah dapat menambah faktor-faktor
produksi yang digunakan dalam proses produksi.
Biaya dalam waktu jangka pendek terdiri atas:
1. Dalam hubungannya dengan tujuan biaya:
a. Biaya Langsung (Direct Cost)
Biaya Langsung merupakan biaya-biaya yang dapat diidentifikasi secara langsung
Biaya dalam waktu jangka pendek terdiri atas:
1. Dalam hubungannya dengan tujuan biaya:
a. Biaya Langsung (Direct Cost)
Biaya Langsung merupakan biaya-biaya yang dapat diidentifikasi secara langsung
pada suatu proses tertentu
ataupun output tertentu. Sebagai contoh adalah biaya
bahan baku langsung dan tenaga
kerja yang dibutuhkan oleh perusahaan. Begitu
juga dengan supervise, listrik,
dan biaya overhead lainnya dapat langsung ditelusuri
pada departemen tertentu.
b. Biaya Tidak Langsung (Indirect Cost)
Biaya Tidak Langsung merupakan biaya-biaya yang tidak dapat diidentifikasi secara
b. Biaya Tidak Langsung (Indirect Cost)
Biaya Tidak Langsung merupakan biaya-biaya yang tidak dapat diidentifikasi secara
langsung pada suatu proses
tertentu atau output tertentu, misalnya biaya lampu
penerangan dan Air Conditioning pada
suatu fasilitas.
2. Dalam hubungannya dengan perubahan volume kegiatan:
a. Biaya Total (Total Cost) / TC
Biaya total merupakan jumlah keseluruhan biaya produksi yang dikeluarkan
2. Dalam hubungannya dengan perubahan volume kegiatan:
a. Biaya Total (Total Cost) / TC
Biaya total merupakan jumlah keseluruhan biaya produksi yang dikeluarkan
perusahaan yang terdiri dari biaya tetap
dan biaya variabel.
Biaya total dapat dihitung dengan
menggunakan rumus sebagai berikut:
TC
= FC + VC
Contoh:
Diketahui : FC = Rp 120.000,00 VC = Rp 240.000,00
Ditanya : TC = …
Penyelesaian : TC = FC + VC
= 120.000 + 240.000
= 360.000
b. Biaya Variabel (Variabel Cost) / VC
Biaya variabel merupakan biaya yang berubah secara linier sesuai dengan volume
Contoh:
Diketahui : FC = Rp 120.000,00 VC = Rp 240.000,00
Ditanya : TC = …
Penyelesaian : TC = FC + VC
= 120.000 + 240.000
= 360.000
b. Biaya Variabel (Variabel Cost) / VC
Biaya variabel merupakan biaya yang berubah secara linier sesuai dengan volume
output operasi perusahaan. Sebagai contoh adalah biaya pulsa telepon bulanan,
biaya pengeluaran untuk upah dan
bahan baku.
Biaya variabel dapat dihitung dari penurunan rumus menghitung biaya total, yaitu:
Biaya variabel dapat dihitung dari penurunan rumus menghitung biaya total, yaitu:
TC
= FC + VC
VC = TC - FC
Contoh:
Diketahui: FC = 120.000 TC = 480.000
Ditanya : VC = …
Penyelesaian: TC = FC + VC
480.000 = 120.000 + VC
VC = 480.000 – 120.000
= 360.000
c. Biaya Tetap (Fixed Cost) / FC
Biaya tetap merupakan biaya yang tidak berubah mengikuti tingkat produksi. Sebagai contoh adalah biaya peneliharaan pabrik dan asuransi, biaya abonemen telepon bulanan. Biaya tetap dapat dihitung sama seperti biaya variabel, yaitu dari penurunan rumus menghitung biaya total. Penuruanan rumus tersebut, adalah: TC = FC + VC
FC = TC – VC
Contoh:
Diketahui: VC = 600.000 TC = 720.000
Ditanya : FC = …
Penyelesaian: TC = FC + VC
720.000= FC + 600.000
FC = 720.000 – 600.000
= 120.000
d. Biaya Total Rata-Rata (Average Total Cost) / ATC
Biaya total rata-rata merupakan biaya yang apabila biaya total (TC) untuk memproduksi sejumlah barang tertentu (Q) dibagi dengan jumlah produksi oleh perusahaan. Biaya total rata-rata dapat dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut, yaitu:
VC = TC - FC
Contoh:
Diketahui: FC = 120.000 TC = 480.000
Ditanya : VC = …
Penyelesaian: TC = FC + VC
480.000 = 120.000 + VC
VC = 480.000 – 120.000
= 360.000
c. Biaya Tetap (Fixed Cost) / FC
Biaya tetap merupakan biaya yang tidak berubah mengikuti tingkat produksi. Sebagai contoh adalah biaya peneliharaan pabrik dan asuransi, biaya abonemen telepon bulanan. Biaya tetap dapat dihitung sama seperti biaya variabel, yaitu dari penurunan rumus menghitung biaya total. Penuruanan rumus tersebut, adalah: TC = FC + VC
FC = TC – VC
Contoh:
Diketahui: VC = 600.000 TC = 720.000
Ditanya : FC = …
Penyelesaian: TC = FC + VC
720.000= FC + 600.000
FC = 720.000 – 600.000
= 120.000
d. Biaya Total Rata-Rata (Average Total Cost) / ATC
Biaya total rata-rata merupakan biaya yang apabila biaya total (TC) untuk memproduksi sejumlah barang tertentu (Q) dibagi dengan jumlah produksi oleh perusahaan. Biaya total rata-rata dapat dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut, yaitu:
ATC = atau ATC = AFC + AVC
Contoh:
Diketahui: TC = 360.000 Q = 3
AFC = 40.000 AVC = 80.000
Ditanya : ATC = …
Penyelesaian: ATC = ATC = AFC + AVC
= atau = 40.000 + 80.000
= 120.000 = 120.000
Dengan menggunakan kedua rumus di atas, maka telah diketahui bahwa hasilnya
Contoh:
Diketahui: TC = 360.000 Q = 3
AFC = 40.000 AVC = 80.000
Ditanya : ATC = …
Penyelesaian: ATC = ATC = AFC + AVC
= atau = 40.000 + 80.000
= 120.000 = 120.000
Dengan menggunakan kedua rumus di atas, maka telah diketahui bahwa hasilnya
adalah sama, yaitu Rp
120.000,00.
e. Biaya Variabel Rata-Rata
(Average Variabel Cost) / AVC
Biaya variabel rata-rata merupakan biaya yang apabila biaya variabel (VC) untuk
Biaya variabel rata-rata merupakan biaya yang apabila biaya variabel (VC) untuk
memproduksi sejumlah baran (Q)
dibagi dengan jumlah produksi tertentu. Biaya
variabel rata-rata dapat
dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut, yaitu: AVC =
f. Biaya Tetap Rata-Rata (Average Fixed Cost) / AFC
Biaya tetap rata-rata merupakan biaya yang apabila biaya tetap (FC) untuk memproduksi sejumlah barang tertentu (Q) dibagi dengan jumlah produksi tersebut.
f. Biaya Tetap Rata-Rata (Average Fixed Cost) / AFC
Biaya tetap rata-rata merupakan biaya yang apabila biaya tetap (FC) untuk memproduksi sejumlah barang tertentu (Q) dibagi dengan jumlah produksi tersebut.
Contoh kurva biaya rata-rata
3. Dalam hubungannya dengan keputusan-keputusan manajemen:
a. Biaya Marginal (Marginal Cost) / MC
Biaya marginal dapat juga dikatakan sebagai biaya pertambahan
(incrementalcost).
Biaya marginal merupakan
kenaikan biaya produksi yang dikeluarkan untuk
menambah produksi sebanyak satu
unit keluaran tambahan. Biaya marginal dapat
dihitung dengan menggunakan
rumus: Rumus : MC = ∆TC/∆Q = ∆TVC/∆Q
Jumlah Produksi Biaya Variabel
15 600.000
19 720.000
Contoh:
Jumlah Produksi Biaya Variabel
15 600.000
19 720.000
Contoh:
Maka
cara menghitung biaya marginal dari tabel di atas adalah :
MC = = 30.000
Jadi, biaya marginalnya adalah 30.000.
MC = = 30.000
Jadi, biaya marginalnya adalah 30.000.
contoh tabel marginal cost.
b. Biaya Kesempatan (Opportunity Cost) / OC
Biaya kesempatan merupakan biaya atas kesempatan yang dilepas dengan
tidak
menempatkan sumber daya perusahaan pada nilai pemanfaatan tertingginya atau merupakan pendapatan biaya yang
dikorbankan sebagai akibat kita memilih alternatif tertentu.
Sebagai contoh:
Sebagai contoh:
Apabila Umar kuliah sampai selesai di universitas LP3I, maka pendapatan yang
diperkirakan adalah Rp 700.000,00/bulan.
Sedangkan apabila tidak kuliah dan memutuskan untuk meneruskan usaha ayahnya,
Sedangkan apabila tidak kuliah dan memutuskan untuk meneruskan usaha ayahnya,
maka
pendapatan yang diperkirakan adalah Rp 2.000.000,00.
Bila akhirnya memilih meneruskan usaha ayahnya maka biaya kesempatan yang dikorbankannya adalah Rp 700.000,00.
Tentu saja Ali lebih suka tidak kuliah dan meneruskan usaha ayahnya, bila pendapatan yang diperkirakan jauh lebih besar dari alternatif kuliah.
Bila akhirnya memilih meneruskan usaha ayahnya maka biaya kesempatan yang dikorbankannya adalah Rp 700.000,00.
Tentu saja Ali lebih suka tidak kuliah dan meneruskan usaha ayahnya, bila pendapatan yang diperkirakan jauh lebih besar dari alternatif kuliah.
c. Biaya
Terbenam (Sunk Cost)
Biaya terbenam merupakan biaya atau pengeluaran yang apabila sudah dikeluarkan tidak dapat diperoleh kembali. Biaya ini terjadi apabila terdapat perbedaan antara nilai buku dari suatu asset (misalnya mensin-mesin bangunan) dengan nilai sebenarnya ketika asset tersebut dijual. Perbedaan dimana nilai jual asset sebenarnya lebih rendah dari nilai buku dapat juga disebut sebagai biaya terbenam.
Walau demikian, kondisi ini diharapkan tidak mempengaruhi kebijakan untuk penggantian mesin-mesin yang didasarkan pada biaya-biaya yang sebenarnya. Sebagai contoh:
Pada tahun kelima penggunaan suatu mesin mempunyai nilai buku secara akuntansi sebesar Rp 12 juta.
Tetapi, nilai jual sebenarnya ternyata hanyalah Rp 8 juta.
Perbedaan sebesar Rp 4 juta tersebut adalah biaya terbenam yang seharusnya tidak mempengaruhi keputusan penggantian mesin tersebut dengan mesin yang lebih efisien pada tahun kelima pemakaian mesin tersebut.
(Asumsi : umur ekonomis mesin adalah 5 tahun).
Berikut merupakan kurva dan tabel berbagai pengertian ongkos produksi jangka pendek.
Biaya terbenam merupakan biaya atau pengeluaran yang apabila sudah dikeluarkan tidak dapat diperoleh kembali. Biaya ini terjadi apabila terdapat perbedaan antara nilai buku dari suatu asset (misalnya mensin-mesin bangunan) dengan nilai sebenarnya ketika asset tersebut dijual. Perbedaan dimana nilai jual asset sebenarnya lebih rendah dari nilai buku dapat juga disebut sebagai biaya terbenam.
Walau demikian, kondisi ini diharapkan tidak mempengaruhi kebijakan untuk penggantian mesin-mesin yang didasarkan pada biaya-biaya yang sebenarnya. Sebagai contoh:
Pada tahun kelima penggunaan suatu mesin mempunyai nilai buku secara akuntansi sebesar Rp 12 juta.
Tetapi, nilai jual sebenarnya ternyata hanyalah Rp 8 juta.
Perbedaan sebesar Rp 4 juta tersebut adalah biaya terbenam yang seharusnya tidak mempengaruhi keputusan penggantian mesin tersebut dengan mesin yang lebih efisien pada tahun kelima pemakaian mesin tersebut.
(Asumsi : umur ekonomis mesin adalah 5 tahun).
Berikut merupakan kurva dan tabel berbagai pengertian ongkos produksi jangka pendek.
Jum-lah Produk-si Biaya Tetap Biaya Variabel Biaya Total Biaya Tetap Rata-Rata Biaya Variabel .
v
Rata-Rata Biaya Total Rata-Rata Biaya Marginal
2. Biaya Produksi Jangka Panjang.
Jangka panjang, yaitu jangka waktu di mana semua faktor produksi dapat mengalami perubahan, yaitu jumlah daripada faktor-faktor produksi yang digunakan oleh perusahaan dapat ditambah apabila memang dibutuhkan. Faktor-faktor produksi tersebut adalah: faktor pasar, faktor bahan mentah, faktor fasilitas angkutan, dan faktor tenaga kerja.
2. Biaya Produksi Jangka Panjang.
Jangka panjang, yaitu jangka waktu di mana semua faktor produksi dapat mengalami perubahan, yaitu jumlah daripada faktor-faktor produksi yang digunakan oleh perusahaan dapat ditambah apabila memang dibutuhkan. Faktor-faktor produksi tersebut adalah: faktor pasar, faktor bahan mentah, faktor fasilitas angkutan, dan faktor tenaga kerja.
Untuk menjelaskan konsep biaya jangka panjang yang diturunkan dari jalur perluasan jangka panjang, perhatikan contoh berikut. Bayangkan bahwa suatu perusahaan tertentu hanya menggunakan dua jenis input, yaitu input modal (K), dan input tenaga kerja (L).
Perusahaan mula-mula menggunakan kombinasi input K dan L yang optimum yaitu : K=7 dan L=10 untuk memproduksi output sebesar Q1=100 unit.
Harga dari setiap input modal dan tenaga kerja, masing-masing adalah sebesar: r=$10 per unit modal, dan w = $5 per unit tenaga kerja.
Dengan demikian pada tingkat produksi Q1=100 unit, perusahaan mengeluarkan biaya total jangka panjang (LTC) = Rk + wL = ($10)(7) + ($5)(10) = $120.
Serupa dengan konsep biaya jangka pendek, kita dapat menghitung biaya rata-rata jangka panjang (LAC) dan biaya marginal jangka panjang (LMC).
Dengan
konsep serupa perusahaan terus berkembang dalam usaha atau produksi melalui
beroperasi pada titik-titik keseimbangan produsen yang meminimumkan biaya penggunaan
input-input. Garis yang menghubungkan titik-titik keseimbangan produsen
sepanjang waktu ini desebut sebagai jalur perluasan jangka panjang.
3.Pengambilan
keputusan dalam manajemen produksi
Manajemen produksi merupakan salah satu bagian dari bidang
manajemen yang mempunyai peran dalam mengoordinasi kan berbagai kegiatan untuk
mencapai tujuan. Untuk mengatur kegiatan ini, perlu dibuat keputusan-keputusan
yang berhubungna dengan usaha-usaha untuk mencapai tujuan agar barang dan jasa
yang dihasilkan sesuai dengan apa yang direncanakan. Dengan demikian, manajemen
produksi menyangkut pengambilan keputusan yang berhubungan dengan proses
produksi untuk mencapai tujuan organisasi atau perusahaan.
Fungsi dan Sistem Produksi dan Operasi
·
Perencana produksi
Bertujuan agar dilakukanya persiapan yang sistematis bagi produksi yang
akan dijalankan. Keputusan yang harus dihadapi dalam perencanaan produksi:
1.
Jenis barang yang diproduksi
2.
Kualitas barang
3.
Jumlah barang
4.
Bahan baku
5.
Pengendalian produksi
·
Pengendalian produksi
Bertujuan agar mencapai hasil yang maksimal demi biaya seoptimal mungkin.
Adapun kegiatan yang dilakukan antara lain :
1.
Menyusun perencanaan
2.
Membuat penjadwalan kerja
3.
Menentukan kepada siapa barang akan dipasarkan.
·
Pengawasan produksi
| Bertujuan agar pelaksanaan kegiatan dapat berjalan sesuai dengan rencana. Kegiatanya meliputi : |
1. Menetapkan kualitas
2.
Menetapkan standar barang
3.
Pelaksanaan prouksi yang tepat waktu
4. PASAR
adalah tempat bertemunya penjual dan pembeli.
Transaksi jual-beli yang terjadi tidak selalu memerlukan lokasi fisik. Pasar yang
dimaksud bisa merujuk kepada suatu negara tempat
suatu barang dijual dan dipasarkan.
* Struktur pasar
adalah
berbagai hal yang dapat mempengaruhi tingkah laku dan kinerja perusahaan dalam
pasar, antara lain jumlah perusahaan dalam pasar, skala produksi, dan jenis
produksi. Suatu struktur pasar dikatakan kompetitif jika perusahaan tersebut tidak
mempunyai kemampuan untuk mempengaruhi harga dan jumlah barang di pasar.
Semakin lemah kemampuan perusahaan untuk mempengaruhi pasar, semakin kompetitif
struktur pasarnya.
1.
PASAR PERSAINGAN SEMPURNA
Pada pasar ini, kekuatan permintaan dan kekuatan penawaran
dapat bergerak secara leluasa. Harga yang terbentuk benar-benar mencerminkan
keinginan produsen dan konsumen. Permintaan mencerminkan keinginan konsumen,
sementara penawaran mencerminkan keinginan produsen atau penjual.
Berikut
adalah ciri-ciri pasar persaingan sempurna :
1. Jumlah Pembeli dan Penjual Banyak.
1. Jumlah Pembeli dan Penjual Banyak.
2.Barang dan
Jasa yang Diperjualbelikan Bersifat Homogen.
3. Faktor
Produksi Bebas Bergerak.
4. Pembeli dan Penjual Mengetahui Keadaan Pasar Pasar.
5. Produsen Bebas Keluar Masuk Pasar Pasar.
6. Bebas dari Campur Tangan Pemerintah.
4. Pembeli dan Penjual Mengetahui Keadaan Pasar Pasar.
5. Produsen Bebas Keluar Masuk Pasar Pasar.
6. Bebas dari Campur Tangan Pemerintah.
2.
PASAR PERSAINGAN TIDAK SEMPURNA
Pasar persaingan tidak sempurna adalah pasar di mana
terdapat satu atau beberapa penjual yang menguasai pasar atau harga, serta satu
atau beberapa pembeli yang menguasai pasar atau harga. Jika suatu perusahaan
dapat mempengaruhi harga pasar, maka pasar tempat perusahaan itu menjual
produknya digolongkan sebagai pasar persaingan yang tidak sempurna. Keberadaan
sejumlah pihak yang menguasai pasar atau harga akan melahirkan keberagaman
bentuk-bentuk
Pasar persaingan sempurna jarang kita jumpai, yang seringkali kita jumpai adalah pasar persaingan tidak sempurna ( imperfect competition market).
Pasar persaingan sempurna jarang kita jumpai, yang seringkali kita jumpai adalah pasar persaingan tidak sempurna ( imperfect competition market).
3.
PASAR MONOPOLI
Kata monopoli berasal dari bahasa Yunani, mono, yang artinya
satu, dan poli, yang artinya penjual. Dari dua kata tersebut maka monopoli
menunjuk pada suatu kondisi di mana dalam suatu pasar hanya ada satu penjual,
sehingga tidak ada pihak lain yang menyaingi.
Dalam monopoli, penjual tersebut adalah satu-satunya produsen dalam industri, dan tidak ada industri lain yang memproduksi barang subtitusinya.
Dalam monopoli, penjual tersebut adalah satu-satunya produsen dalam industri, dan tidak ada industri lain yang memproduksi barang subtitusinya.






Tidak ada komentar:
Posting Komentar