Senin, 16 Januari 2017

EKONOMI


1.    Strategi Pengendalian Biya Produksi
Biaya produksi adalah semua pengeluaran perusahaan untuk memperoleh faktor-faktor produksi yang akan digunakan untuk menghasilkan barang-barang produksi oleh perusahaan tersebut. Untuk analisis biaya produksi perlu diperhatikan dua jangka waktu,yaitu :
1.    jangka panjang, yaitu jangka waktu di mana semua faktor produksi dapat mengalami perubahan dan
2.    jangka pendek, yaitu jangka waktu dimana sebagian faktor produksi dapat berubah dan sebagian lainnya tidak dapat berubah. Dalam bab ini hanya dibahas biaya produksi jangka pendek.
Biaya produksi dapat dibedakan ke dalam dua macam, yaitu :
1.    Biaya tetap (fixedcost) dan
2.    Biaya variabel (variable cost).
Menurut obyek pengeluarannya, secara garis besar biaya produksi ini dibagi menjadi :


 v  Biaya bahan baku. (prime cost). Biaya yang dikeluarkan terkait dengan bahan baku pembuatan produk
 v  Biaya tenaga kerja langsung (prime cost). Biaya yang dikeluarkan dapat diperhitungkan secara langsung terhadap aktifitas tingkatan produksi. Biaya ini juga mudah untuk teridentifikasi karena besar kecilnya biaya ini terkait pada aktifitas produksi, contoh biaya tenaga kerja langsung : Upah Buruh Pabrik, Upah Buruh angkut, Upah Buruh Potong, Upah buruh adonan & Upah Lain-lain 
 v  Biaya overhead pabrik / konversi (convertion cost). Contoh BOP antara lain; 
·         Tenaga kerja tidak langsung : Biaya yang dikeluarkan tidak dapat diperhitungkan secara langsung terhadap aktifitas produksi. Gaji Karyawan yang bekerja dalam departemen pembantu, seperti departemen-departemen pembangkit tenaga listrik, uap, bengkel dan depertemen gudang. Karyawan tertentu yang bekerja dalam departemen produksi, seperti kepala departemen produksi, karyawan adminstrasi pabrik, dan mandor.
·         Biaya bahan mentah tidak langsung (bahan penolong) Biaya Reparasi dan Pemeliharaan : biaya reparasi dan pemeliharaan berupa biaya suku cadang (spareparts), biaya bahan habis pakai (factory supplies) dan harga perolehan jasa dari pihak luar perusahaan untuk keperluan perbaikan dan pemeliharaan emplasemen, perumahan, bangunan pabrik, mesin-mesin dan equipmen, kendaraan, perkakas laboraturium, dan aktiva tetap lain yang digunakan untuk keperluan pabrik.
·         Biaya yang timbul sebagai akibat penilaian terhadap aktiva tetap : Biaya-biaya yang termasuk dalam kelompok ini antara lain adalah biaya-biaya depresiasi emplasemen pabrik, bangunan pabrik, mesin dan equipmen, perkakas laboraturium, alat kerja dan aktiva tetap lain yang digunakan di pabrik.
·         Biaya yang timbul sebagai akibat berlalunya waktu : Biaya-biaya yang termasuk dalam kelompok ini antara lain adalah biaya-biaya asuransi gedung dan emplasemen, asuransi mesin dan equipmen, asuransi kendaraan, asuransi kecelakaan karyawan, dan biaya amortisasi karugian trial-run.
    ·          Biaya overhead pabrik lain yang secara langsung memerlukan pengeluaran uang tunai Biaya overhead pabrik yang termasuk dalam kelompok ini antara lain adalah biaya reparasi yang diserahkan kepada pihak luar perusahaan, biaya listrik PLN dan sebagainya Oleh karena begitu banyaknya jenis biaya-biaya yang terjadi di dalam pabrik, maka memerlukan perhatian khusus. Untuk merencanakan besarnya dana yang harus dianggarkan untuk anggaran biaya overhead pabrik, terdapat dua masalah pokok yang perlu perhatian khusus yakni penanggungjawab perencanaan biaya.  

Menurut Garrison (2003:97), pengendalian adalah proses penentuan, apa yang dicapai yaitu standar, apa yang sedang dilakukan yaitu pelaksanaan, menilai pelaksanaan yaitu perbaikan, sehingga pelaksanaan sesuai dengan rencana yaitu selaras dengan standar.
Menurut Mulyadi (2001:501), untuk melakukan pengendalian biaya di dalam perusahaan tergantung pada besar kecilnya perusahaan tersebut, dan telah berkembang melalui lima tahapan, yaitu:
a. Pengendalian biaya dengan pengawasan fisik Dalam perusahaan kecil biasanya pimpinan sekaligus pemilik perusahaan, perencanaan dan pengendalian terhadap pelaksanaan rencana dilakukan secara langsung oleh pimpinan perusahaan. Pimpinan perusahaan memiliki kemampuan yang memadai untuk merencanakan dan mengendalikan kegiatannya
b. Pengendalian biaya dengan menggunakan catatan akuntansi historis Jika perusahaan berkembang, maka pimpinan perusahaan tidak lagi dapat mengamati secara fisik, tetapi memerlukan catatan historis untuk merencanakan dan mengendalikan kegiatannya dari periode ke periode. Untuk tingkat perkembangan tertentu pimpinan perusahaan cukup melakukan pernecanaan dan pengendalian dengan membandingkan catatan historis dari tahun ke tahun.
 c. Pengendalian biaya dengan menggunakan anggaran statis dan biaya standar Jika perusahaan semakin berkembang, pimpinan perusahaan tidak lagi menghadapi masalah bagaimana pelaksanaan kegiatan pada tahun berjalan jika dibandingkan dengan apa yang telah dilaksanakan pada tahun sebelumnya tetapi bagaimana pelaksanaan pada tahun berjalan jika dibandingkan dengan yang seharusnya dilaksanakan pada tahun tersebut. Pada tingkat perkembangan ini, pimpinan memerlukan anggaran dan standar sebagai alat untuk merencanakan dan mengendalikan kegiatannya. Pimpinan perusahaan mulai memperbaiki sistem perencanaan dan pengendalian kegiatannya dengan membuat anggaran statis dan biaya yang sederhana.
d. Pengendalian biaya dengan menggunakan anggaran fleksibel dengan biaya standar Dalam kenyataannya kapasitas yang direalisasikan seringkali menyimpang dari kapasitas yang direncanakan. Maka, cara perencanaan dan pengendalian kegiatan perusahaan kemudian diperbaiki dengan mengembangkan anggaran fleksibel dengan biaya standar. Anggaran fleksibel disusun untuk berbagai tingkat kapasitas yang direncanakan, sehingga anggaran ini menyediakan tolok ukur prestasi yang mendekati kapasitas sesungguhnya yang dicapai.
e. Pengendalian biaya dengan pembuatan pusat-pusat pertanggung jawaban dan penerapan sistem akuntansi pertanggung jawaban

Beberapa strategi pengendalian biaya produksi dapat menggunakan skenario berikut :
 •    Pertama, biaya harus dipandang sebagai keuntungan potensial (potential profit), bukan sekedar pengeluaran atau ongkos produksi yang memang harus dikeluarkan. dengan demikian reduksi biaya produksi melalui peningkatan efisiensi akan meningkatkan keuntungan. 
•    Setelah persepsi tentang biaya produksi diatas berubah, manajemen harus melaksanakan aktivitas produksi bernilai tambah (bukan sekedar mengubah input menjadi output) dengan jalan berproduksi pada biaya produksi yang minimum. Dengan cara ini perusahaan akan meningkatkan daya saing melalui strategi penetapan harga (pricing strategy) yang kompetitif di pasar.
•    Keunggulan kompetitif produk dipasar akan meningkatkan pangsa pasar (market share) yang berarti akan meningkatkan penerimaan total (TR) dari penjualan produk itu.
•    Strategi reduksi biaya produksi dan penetapan harga produk yang kompetitif dipasar akan meningkatkan keuntungan perusahaan, karena keuntungan perusahaan adalah benefit antara TR dan Total Cost (TC).
•    Dengan demikian strategi di atas harus dilakukan melalui scenario :
1). melaksanakan aktivitas produksi pada tingkat biaya produksi minimum,
2). Menetapkan harga produk yang kompetitif di pasar,
3). memperluas pangsa pasar (market share) melalui keunggulan kompetitif (meningkatkan daya saing terus menerus),
4). memperoleh penerimaan total (TR) yang terus meningkat,
5). memperoleh keuntungan (net benefit) yang terus meningkat,
6). meningkatkan kesejahteraan bagi stakeholders
Kesimpulan berkaitan dengan teori biaya produksi yaitu :
v  Biaya tetap total (TFC) tidak bergantung pada kuantitas output (Q), sedangkan biaya variabe total bergantung pada kuantitas output (Q)
Biaya tetap rata-rata (AFC) menurun secara kontinyu sampai mendekati garis horisontal, karena AFC = TFC / Q.v
Kurva AVC menurun mencapai minimum untuk kemudian mengalami peningkatan karena AVC = TVC / Q.v
Total Cost (TC) merupakan penjumlahan dari biaya TFC dan TVC karena TC = TFC + TVC.v
ATC mula-mula akan turun kemudian akan meningkat karena ATC = TC / Q.v
v  SMC mula-mula menurun mencapai minimum pada kuantitas output tertentu dan kemudian akan naik (catatan biasanya SMC akan selalu memotong kurva AVC) karena SMC = dTC / dQ (baca d=delta)
Jika SMCv < AVC, maka AVC menurun, Jika SMC>AVC maka AVC meningkat dan jika SMC = AVC maka AVC minimum.
Jika SMCvATC maka ATC meningkat dan jika SMC = ATC, maka ATC minimum.

   2.    Variabel Biaya

Biaya produksi didefinisikan sebagai semua pengeluaran yang dilakukan oleh perusahaan untuk memperoleh faktor-faktor produksi dan bahan-bahan mentah yang digunakan untuk menciptakan barang-barang yang diproduksi oleh perusahaan tersebut.
Analisis di dalam biaya produksi harus dibedakan menjadi dua jangka waktu, yaitu biaya produksi jangka pendek dan biaya produksi jangka panjang. Biaya produksi yang dikeluarkan oleh perusahaan dibedakan menjadi dua bagian pula, yaitu:

1. biaya eksplisit, yaitu pengeluaran-pengeluaran perusahaan yang berupa pembayaran dengan uang (cek) untuk mendapatkan faktor-faktor produksi dan bahan mentah yang dibutuhkan oleh perusahaan untuk menghasilkan produk barang ataupun jasa,

2. biaya tersembunyi (imputed costs), yaitu taksiran pengeluaran atas faktor-faktor produksi yang dimiliki oleh perusahaan. 

1.       Jangka pendek, yaitu jangka waktu dimana perusahaan telah dapat menambah faktor-faktor    
produksi yang digunakan dalam proses produksi.
Biaya dalam waktu jangka pendek terdiri atas:
1. Dalam hubungannya dengan tujuan biaya:
       a. Biaya Langsung (Direct Cost)
                       Biaya Langsung merupakan biaya-biaya yang dapat diidentifikasi secara langsung       
pada suatu proses tertentu ataupun output tertentu. Sebagai contoh adalah biaya   
bahan baku langsung dan tenaga kerja yang dibutuhkan oleh perusahaan. Begitu
juga dengan supervise, listrik, dan biaya overhead lainnya dapat langsung ditelusuri
pada departemen tertentu.
b. Biaya Tidak Langsung (Indirect Cost)
                Biaya Tidak Langsung merupakan biaya-biaya yang tidak dapat diidentifikasi secara
langsung pada suatu proses tertentu atau output tertentu, misalnya biaya lampu
penerangan dan Air Conditioning pada suatu fasilitas.
2. Dalam hubungannya dengan perubahan volume kegiatan:
                a. Biaya Total (Total Cost) / TC
                                Biaya total merupakan jumlah keseluruhan biaya produksi yang dikeluarkan
perusahaan yang terdiri dari biaya tetap dan biaya variabel.
Biaya total dapat dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut:
                TC = FC + VC
                Contoh:
                Diketahui : FC = Rp 120.000,00 VC = Rp 240.000,00
                Ditanya : TC = …
                Penyelesaian : TC = FC + VC
                = 120.000 + 240.000
                = 360.000
b. Biaya Variabel (Variabel Cost) / VC
                Biaya variabel merupakan biaya yang berubah secara linier sesuai dengan volume    


output operasi perusahaan. Sebagai contoh adalah biaya pulsa telepon bulanan,     
biaya pengeluaran untuk upah dan bahan baku.
                Biaya variabel dapat dihitung dari penurunan rumus menghitung biaya total, yaitu:     
                                TC = FC + VC
                                VC = TC - FC
                                Contoh:
                                Diketahui: FC = 120.000 TC = 480.000
                                Ditanya : VC = …
                                Penyelesaian: TC = FC + VC
                                480.000 = 120.000 + VC
                                VC = 480.000 – 120.000
                                = 360.000
c. Biaya Tetap (Fixed Cost) / FC
                Biaya tetap merupakan biaya yang tidak berubah mengikuti tingkat produksi. Sebagai contoh adalah biaya peneliharaan pabrik dan asuransi, biaya abonemen telepon bulanan. Biaya tetap dapat dihitung sama seperti biaya variabel, yaitu dari penurunan rumus menghitung biaya total. Penuruanan rumus tersebut, adalah: TC = FC + VC
                FC = TC – VC
                Contoh:
                Diketahui: VC = 600.000 TC = 720.000
                Ditanya : FC = …
                Penyelesaian: TC = FC + VC
                720.000= FC + 600.000
                FC = 720.000 – 600.000
                     = 120.000
d. Biaya Total Rata-Rata (Average Total Cost) / ATC
                Biaya total rata-rata merupakan biaya yang apabila biaya total (TC) untuk memproduksi sejumlah barang tertentu (Q) dibagi dengan jumlah produksi oleh perusahaan. Biaya total rata-rata dapat dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut, yaitu:
ATC = atau ATC = AFC + AVC
                Contoh:
                Diketahui: TC = 360.000 Q = 3
                AFC = 40.000 AVC = 80.000
                Ditanya : ATC = …
                Penyelesaian: ATC = ATC = AFC + AVC
                = atau = 40.000 + 80.000
                = 120.000 = 120.000
                Dengan menggunakan kedua rumus di atas, maka telah diketahui bahwa hasilnya     
adalah sama, yaitu Rp 120.000,00.
e. Biaya Variabel Rata-Rata (Average Variabel Cost) / AVC
                    Biaya variabel rata-rata merupakan biaya yang apabila biaya variabel (VC) untuk  
memproduksi sejumlah baran (Q) dibagi dengan jumlah produksi tertentu. Biaya  
variabel rata-rata dapat dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut, yaitu: AVC =
f. Biaya Tetap Rata-Rata (Average Fixed Cost) / AFC
                Biaya tetap rata-rata merupakan biaya yang apabila biaya tetap (FC) untuk  memproduksi sejumlah barang tertentu (Q) dibagi dengan jumlah produksi tersebut.



Contoh kurva biaya rata-rata

3. Dalam hubungannya dengan keputusan-keputusan manajemen:
                a. Biaya Marginal (Marginal Cost) / MC
                                Biaya marginal dapat juga dikatakan sebagai biaya pertambahan 
                    (incrementalcost).  
                    Biaya marginal merupakan kenaikan biaya produksi yang dikeluarkan untuk   
               menambah produksi sebanyak satu unit keluaran tambahan. Biaya marginal dapat      
dihitung dengan menggunakan rumus: Rumus : MC = ∆TC/∆Q = ∆TVC/∆Q
                Jumlah Produksi Biaya Variabel
                15 600.000
                19 720.000
                Contoh:
                                Maka cara menghitung biaya marginal dari tabel di atas adalah :
                                MC = = 30.000
                                Jadi, biaya marginalnya adalah 30.000.

contoh tabel marginal cost.

b. Biaya Kesempatan (Opportunity Cost) / OC
                                Biaya kesempatan merupakan biaya atas kesempatan yang dilepas dengan    
tidak menempatkan sumber daya perusahaan pada nilai pemanfaatan tertingginya  atau merupakan pendapatan biaya yang dikorbankan sebagai akibat kita memilih alternatif tertentu.
Sebagai contoh:

                                Apabila Umar kuliah sampai selesai di universitas LP3I, maka pendapatan yang    
               diperkirakan adalah Rp 700.000,00/bulan.
                Sedangkan apabila tidak kuliah dan memutuskan untuk meneruskan usaha ayahnya,         
maka pendapatan yang diperkirakan adalah Rp 2.000.000,00.
Bila akhirnya memilih meneruskan usaha ayahnya maka biaya kesempatan yang dikorbankannya adalah Rp 700.000,00.
Tentu saja Ali lebih suka tidak kuliah dan meneruskan usaha ayahnya, bila pendapatan yang diperkirakan jauh lebih besar dari alternatif kuliah.

c. Biaya Terbenam (Sunk Cost)
                Biaya terbenam merupakan biaya atau pengeluaran yang apabila sudah dikeluarkan tidak dapat diperoleh kembali. Biaya ini terjadi apabila terdapat perbedaan antara  nilai buku dari suatu asset (misalnya mensin-mesin bangunan) dengan nilai sebenarnya ketika asset tersebut dijual. Perbedaan dimana nilai jual asset sebenarnya lebih rendah dari nilai buku dapat juga disebut sebagai biaya terbenam.
Walau demikian, kondisi ini diharapkan tidak mempengaruhi kebijakan untuk penggantian mesin-mesin yang didasarkan pada biaya-biaya yang sebenarnya. Sebagai contoh:
Pada tahun kelima penggunaan suatu mesin mempunyai nilai buku secara akuntansi sebesar Rp 12 juta.
Tetapi, nilai jual sebenarnya ternyata hanyalah Rp 8 juta.
Perbedaan sebesar Rp 4 juta tersebut adalah biaya terbenam yang seharusnya tidak mempengaruhi keputusan penggantian mesin tersebut dengan mesin yang lebih efisien pada tahun kelima pemakaian mesin tersebut.
(Asumsi : umur ekonomis mesin adalah 5 tahun).

Berikut merupakan kurva dan tabel berbagai pengertian ongkos produksi jangka pendek.




Jum-lah Produk-si Biaya Tetap Biaya Variabel Biaya Total Biaya Tetap Rata-Rata Biaya Variabel .
v  Rata-Rata Biaya Total Rata-Rata Biaya Marginal


2. Biaya Produksi Jangka Panjang.
       Jangka panjang, yaitu jangka waktu di mana semua faktor produksi dapat mengalami perubahan, yaitu jumlah daripada faktor-faktor produksi yang digunakan oleh perusahaan dapat ditambah apabila memang dibutuhkan. Faktor-faktor produksi tersebut adalah: faktor pasar, faktor bahan mentah, faktor fasilitas angkutan, dan faktor tenaga kerja. 

Untuk menjelaskan konsep biaya jangka panjang yang diturunkan dari jalur perluasan jangka panjang, perhatikan contoh berikut. Bayangkan bahwa suatu perusahaan tertentu hanya menggunakan dua jenis input, yaitu input modal (K), dan input tenaga kerja (L). 

Perusahaan mula-mula menggunakan kombinasi input K dan L yang optimum yaitu : K=7 dan L=10 untuk memproduksi output sebesar Q1=100 unit.
Harga dari setiap input modal dan tenaga kerja, masing-masing adalah sebesar: r=$10 per unit modal, dan w = $5 per unit tenaga kerja.
Dengan demikian pada tingkat produksi Q1=100 unit, perusahaan mengeluarkan biaya total jangka panjang (LTC) = Rk + wL = ($10)(7) + ($5)(10) = $120.
Serupa dengan konsep biaya jangka pendek, kita dapat menghitung biaya rata-rata jangka panjang (LAC) dan biaya marginal jangka panjang (LMC).

Dengan konsep serupa perusahaan terus berkembang dalam usaha atau produksi melalui beroperasi pada titik-titik keseimbangan produsen yang meminimumkan biaya penggunaan input-input. Garis yang menghubungkan titik-titik keseimbangan produsen sepanjang waktu ini desebut sebagai jalur perluasan jangka panjang.

3.Pengambilan keputusan dalam manajemen produksi
               
Manajemen produksi merupakan salah satu bagian dari bidang manajemen yang mempunyai peran dalam mengoordinasi kan berbagai kegiatan untuk mencapai tujuan. Untuk mengatur kegiatan ini, perlu dibuat keputusan-keputusan yang berhubungna dengan usaha-usaha untuk mencapai tujuan agar barang dan jasa yang dihasilkan sesuai dengan apa yang direncanakan. Dengan demikian, manajemen produksi menyangkut pengambilan keputusan yang berhubungan dengan proses produksi untuk mencapai tujuan organisasi atau perusahaan.
Fungsi dan Sistem Produksi dan Operasi
·                     Perencana produksi
Bertujuan agar dilakukanya persiapan yang sistematis bagi produksi yang akan dijalankan. Keputusan yang harus dihadapi dalam perencanaan produksi:
1.            Jenis barang yang diproduksi
2.            Kualitas barang
3.            Jumlah barang
4.            Bahan baku
5.            Pengendalian produksi
·                     Pengendalian produksi
Bertujuan agar mencapai hasil yang maksimal demi biaya seoptimal mungkin. Adapun kegiatan yang dilakukan antara lain :
1.            Menyusun perencanaan
2.            Membuat penjadwalan kerja
3.            Menentukan kepada siapa barang akan dipasarkan.
·                     Pengawasan produksi
Bertujuan agar pelaksanaan kegiatan dapat berjalan sesuai dengan rencana. Kegiatanya meliputi :

1.           
Menetapkan kualitas
2.            Menetapkan standar barang
3.            Pelaksanaan prouksi yang tepat waktu




  4.    PASAR
adalah tempat bertemunya penjual dan pembeli. Transaksi jual-beli yang terjadi tidak    selalu memerlukan lokasi fisik. Pasar yang dimaksud bisa merujuk kepada suatu negara tempat suatu barang dijual dan dipasarkan.

* Struktur pasar
adalah berbagai hal yang dapat mempengaruhi tingkah laku dan kinerja perusahaan dalam pasar, antara lain jumlah perusahaan dalam pasar, skala produksi, dan jenis produksi. Suatu struktur pasar dikatakan kompetitif jika perusahaan tersebut tidak mempunyai kemampuan untuk mempengaruhi harga dan jumlah barang di pasar. Semakin lemah kemampuan perusahaan untuk mempengaruhi pasar, semakin kompetitif struktur pasarnya.

1.       PASAR PERSAINGAN SEMPURNA
Pada pasar ini, kekuatan permintaan dan kekuatan penawaran dapat bergerak secara leluasa. Harga yang terbentuk benar-benar mencerminkan keinginan produsen dan konsumen. Permintaan mencerminkan keinginan konsumen, sementara penawaran mencerminkan keinginan produsen atau penjual.


Berikut adalah ciri-ciri pasar persaingan sempurna :
1. Jumlah Pembeli dan Penjual Banyak. 
2.Barang dan Jasa yang Diperjualbelikan Bersifat Homogen. 
3. Faktor Produksi Bebas Bergerak.
4. Pembeli dan Penjual Mengetahui Keadaan Pasar Pasar.
5. Produsen Bebas Keluar Masuk Pasar Pasar.
6. Bebas dari Campur Tangan Pemerintah.

2.                   PASAR PERSAINGAN TIDAK SEMPURNA
Pasar persaingan tidak sempurna adalah pasar di mana terdapat satu atau beberapa penjual yang menguasai pasar atau harga, serta satu atau beberapa pembeli yang menguasai pasar atau harga. Jika suatu perusahaan dapat mempengaruhi harga pasar, maka pasar tempat perusahaan itu menjual produknya digolongkan sebagai pasar persaingan yang tidak sempurna. Keberadaan sejumlah pihak yang menguasai pasar atau harga akan melahirkan keberagaman bentuk-bentuk
Pasar persaingan sempurna jarang kita jumpai, yang seringkali kita jumpai adalah pasar persaingan tidak sempurna ( imperfect competition market). 

3.       PASAR MONOPOLI
Kata monopoli berasal dari bahasa Yunani, mono, yang artinya satu, dan poli, yang artinya penjual. Dari dua kata tersebut maka monopoli menunjuk pada suatu kondisi di mana dalam suatu pasar hanya ada satu penjual, sehingga tidak ada pihak lain yang menyaingi.

Dalam monopoli, penjual tersebut adalah satu-satunya produsen dalam industri, dan tidak ada industri lain yang memproduksi barang subtitusinya.



Jumat, 23 Desember 2016

 TUGAS PENGANTAR ILMU BISNIS 


BUSINESS PLANNING


   RENCANA BISNIS

“ NUGGET SEHAT”





                                         
                  Disusun Oleh :
             MULYA WINDARI
                       BA-16-1-1





            Politeknik LP3i Kramat Raya
                  Jakarta Pusat
                         2016






                  BAB I
      PENDAHULUAN


A.       Identifikasi Peluang Bisnis
Dewasa ini, bisnis kuliner menjadi salah satu bentuk bisnis yang menjanjikan. Berbagai macam jenis makanan bermunculan dengan ragam kreatifitas yang menarik. Makanan biasa dikreasikan menjadi makanan yang memiliki cita rasa dan nilai jual tinggi. Salah satu makanan biasa yang sering kita temui adalah tahu dengan kandungan protein yang tinggi. Namun, masyarakat mulai jenuh dengan bentuk dan rasa tahu yang biasa-biasa saja, tidak adanya inovasi.
Untuk itu, diperlukan inovasi baru dalam mengolah tahu tersebut sehingga penyajian tahu tidak monoton. Kami mencoba mengkreasikan tahu tersebut dengan mengolah tahu menjadi nugget yang sehat, bergizi, serta bentuk yang mampu mengundang selera. Kelebihan nugget yang kami buat adalah bentuk yang bervariasi terdiri dari tiga bentuk yaitu, bulat, hati, bintang dan rasa tahu yang unik dikemas dalam bentuk nugget.

B.        Penjelasan Produk
Cara membuat produk kami tidak berbeda jauh dengan membuat nugget pada umumnya, yaitu dengan langkah-langkah berikut ini:
1.      Campur daging ayam cincang dengan susu cair, telur, tepung sagu, tepung maizena, bawang merah, bawang putih, garam, merica, gula pasir, kaldu bubuk, dan margarine. Diaduk hingga rata.
2.      Siapkan Loyang atau pinggan tahan panas, olesi minyak goreng. Kukus adonan selama 20 menit hingga matang, angkat dan diinginkan.
3.      Setelah dingin, masukkan adonan ke kocokan telur, lalu lumuri adonan ke tepung panir, disimpan dalam lemari pendingin selama 2 jam/beku.
4.      Panaskan minyak dan goreng hingga kecokletan, angkat.
5.      Sajikan panas dengan saus.

C.    Latar Belakang Bisnis
Alasan kami menawarkan produk ini adalah karena saat ini semakin banyak masyarakat yang menderita kolesterol, kolesterol merupakan salah satu  penyebab kematian terbesar saat ini. Oleh karena  itu masyarakat  beralih pada makanan yang rendah kolesterol seperti tahu. Namun masyarakat  memandang tahu  itu sebagai makanan yang tidak menarik dari rasa maupun bentuknya. Padahal, begitu banyak manfaat yang dikandung oleh tahu seperti menghambat proses penuaan dini, mengandung protein nabati, dan mencegah kanker payudara. Disini kami membantu masyarakat untuk mencegah maupun menimalisir resiko penyakit kolesterol.

D.     Tujuan
a.       Mendapatkan keuntungan dari produk ini
b.      Membudayakan makanan sehat
c.       Membuat produk makanan yang mempunyai inovasi baru dan disukai seluruh kalangan masyarakat

E.     Potensi Bisnis
Produk ini memiliki peluang bisnis yang cukup menjanjikan. Karena makanan ini sangat dikenal dan harganya yang ekonomis serta dapat dinikmati oleh semua kalangan. Nugget tahu ini mampu bertahan selama kurang lebih satu bulan (disimpan di freezer).



BAB  II
PEMBAHASAN
A.    ANALISIS SWOT
1. Faktor Internal
1)  Strength (Kekuatan)
a.       Keunggulan produk
Kami menawarkan suatu produk makanan sehat dengan harga yang ekonomis dan rasa yang lezat.
b.      Kreativitas
Kami menawarkan kreativitas baru dalam mengolah tahu dengan mengabungkan berbagai rasa nuggettahu yang menarik, yaitu rasa ayam, daging dan sayuran.
c.       Bahan baku mudah di dapat
Bahan baku pembuatan nugget tahu ini tersedia banyak dan mudah di dapat serta harganya terjangkau. Serta jenisnya beraneka ragam sehingga dapat meningkatkan pilihan rasa.
2)  Weakness (Kelemahan)
a.       Belum memiliki cukup pengalaman
Pengalaman untuk memulai usaha yang masih sangat minim merupakan suatu kelemahan yang harus diatasi.
b.      Kurangnya Sumber Daya Manusia
Keterbatasan sumber daya manusia sebagi produsen atau pembuat nugget tahu. Kurangnya keterampilan kami dalam proses pembuatan nugget tahu itu sendiri.

 2. Faktor Eksternal
1)  Opportunities (Peluang)
a.       Banyaknya konsumen
Banyaknya masyarakat yang menggemari berbagai macam variasi nugget, karena nugget merupakan makanan yang sudah siap dan mudah diolah. Dengan adanya nugget tahu ini akan menambah variasi nugget dan menawarkan cita rasa baru bagi masyarakat pada umumnya.
b.      Sistem pemasaran
Pemasaran yang akan kami lakukan cukup mudah. Kami akan memasarkannya dilingkungan kampus dan tempat tinggal.
2)   Threats (Ancaman)
Salah satu bentuk ancaman yang dikhawatirkan bias terjadi adalah keacuhan konsumen.
Terkadang masyarakat kurang tertarik terhadap makanan yang di buat dari bahan sederhana seperti tahu dan gaya konsumsi masyarakat saat ini di kuasai oleh makanan-makanan modern, siap saji, dan dari bahan-bahan import.

STRATEGI SWOT
Strength
a.  Keunggulan produk
b.   Keterampilan dan keahlian
c.   Bahan baku mudah di dapat
Weakness
a. Belum memiliki cukup pengalaman
b. Kurangnya Sumber Daya Manusia
Opportunity
a. Banyaknya konsumen
b. Sistem pemasaran
a. Melakukan program promosi jitu
b. Meningkatkan produksi
c. Melakukan latihan terus-menerus
d. Belajar berbisnis dengan segala fasilitas yang ada dan menjalin koneksi seluas-luasnya.
Threat
a. Keacuhan konsumen
a. Melakukan promosi kepada konsumen yang sekiranya tertarik dengan produk kami.
b. Menawarkan keuntungan yang didapat dengan membeli produk kami
a.  Memperbaiki sistem manajemen
b. Meningkatkan promosi
c. Menjaga kualitas produk

B.     PERENCANAAN BISNIS
1.      Sasaran dan Target Pasar
            Sasaran kami adalah seluruh masyarakat dari segala usia. Untuk itu kami memulai promosi dari daerah sekitar tempat tinggal kami serta melakukan promosi pada rekan mahasiswa di kampus, karena kami menganggap promosi akan lebih efektif jika terjadi dalam suatu kelompok.
Untuk itu, kami menggalakkan promosi di berbagai media social, seperti facebook, twitter, blog, dll. Hal ini kami maksudkan untuk memberi kemudahan dalam pemesanan dan pembelian produk kami.

2.      Pembiayaan
1.        Biaya Tetap (Fixed cost)
Di bawah ini sedikit alat yang kami gunakan:
No
Nama Barang
Jumlah Barang
Harga Satuan
Jumlah Harga
1
Kompor gas
1 buah
Rp.100.000
Rp.100.000
2
Tabung gas
1 buah
Rp.150.000
Rp. 150.000
3
Kukusan
1 buah
Rp. 75.000
Rp. 75.000
4
Mesin giling
1 buah
Rp.120.000
Rp. 120.000
TOTAL
Rp. 445.000

2.      Biaya Variabel (Variable cost) - Per Produksi
Nama Barang
Jumlah Barang
Harga
Tahu
500gr
10000
Susu cair
2 sdm
1000
Telur ayam
3 butir
4500
Tepung sagu
50 gr
3000
Tepung maizena
50 gr
3000
Bawang merah (haluskan)
10 siung
3000
Garam
1 sdm
500
Merica bubuk
1 sdt
500
Gula pasir
1 sdt
2500
Kaldu bubuk rasa ayam
1 bks
500
Margarine
2 sdm
1500
Sasa
½ sdt
500
Bawang putih (haluskan)
5 siung
1000
Panir
Telur
1 butir
1500
Tepung roti
200 gr
5000
Minyak goreng
½ ltr
3000
Saus tomat
Secukupnya
1500
Jumlah Harga
Rp. 42.500

3.      Biaya Total
§  Biaya total          = Variable cost + Fixed cost
= Rp. 42.500 + Rp. 445.000
= Rp. 487.500                             
4.        Biaya dan Harga Per Unit
§  Biaya tetap yang dibutuhkan untuk 1 kali produksi adalah Rp. 445.000 : 8 Kali = Rp. 56.000
§  Total biaya produksi yang dikeluarkan per produksi = Rp 56.000 + Rp 42.500 = Rp 98.500
§  Biaya per unit adalah Total biaya produksi dalam 1 kali produksi : jumlah produk yang dihasilkan per bulan Rp. 98.500 : 60 buah = Rp. 1.700
§  Harga jual per buah Rp 2.000
5.        Modal Awal
§  Modal awal        = Total Biaya Tetap + Biaya Variabel untuk 1 kali produksi
                                    = Rp  445.000 + Rp 42.500
                                    = Rp 487.500
6.        Analisis Titik Impas (Break Even Point)
§  BEP harga          = Total biaya produksi untuk 1 kali produksi : Produksi
= 42.500 : 60 buah = Rp. 1.700
§  Harga jual per unit Rp 2.000
BEP produksi  = Total biaya produksi untuk 1 kali produksi : Harga per unit
= Rp 42.500 : 2.000 = 22 buah
Jadi, untuk mencapai titik impas maka dalam 1 buah nugget yang harus terjual adalah 22 buah dengan harga per buah adalah Rp 2.000
7.        Analisis Keuntungan
§  Pendapatan : Nugget yang terjual x harga jual  = 60 x Rp 2.000
= Rp. 120.000
§  Total biaya produksi dalam 1 kali produksi : Rp. 42.500
§  Keuntungan        = Pendapatan –Total biaya produksi
= Rp 120.000  – Rp 42.500
= Rp 77.500
Jadi, keuntungan yang diperoleh dengan menjual 60 buah nugget dengan harga Rp 2.000 per buah dalam 1 kali produksi adalah Rp 77.500
8.        Pengembalian Modal   
Total biaya Produksi : Laba usaha      = Rp 487.500: Rp 77.500
= 6 kali produksi      
Jadi modal akan kembali dalam jangka waktu 6 kali produksi.

C.    STUDI KELAYAKAN
1.      Lokasi
Pembuatan nugget tahu ini dilakukan di Jalan Lagoa Kanal, Priok Jakarta Utara. Lokasi ini cukup strategis karena berdekatan dengan lingkungan masyarakat. Selain itu, pembeli bisa datang langsung melihat-lihat proses produksi dan dapat memesan langsung.

2.      Sarana dan Prasarana
Selain menggunakan rumah produksi, kami juga memanfaatkan berbagi media soaial seperti, blog, facebook, twitter dan lain sebagainya. Semua sarana ini dilengkapi dengan prosedur atau tata cara membuat nugget tahu.

3.      Sumber Daya Manusia
Untuk usaha awal, sumber daya manusia yang tersedia terdiri dari Sembilan orang yang bertanggung jawab sebagai manager, bendahara, penanggung jawab produksi, dan bagian pemasaran. Setiap sumber daya manusia yang kami miliki memeliki keahlian d bidangnya masing. Sehinga diharapakan dapat menjaga kualitas produk, memberikan pelayanan yang baik kepada konsumen, dan mampu bersaing di pasaran.

D.    REAL BUSINESS PLAN
1. Rencana Manajemen
1.      Strategi pemasaran
Telah banyak jenis nugget yang bisa dijumpai di berbagai pusat perbelanjaan, seperti pasar, departement store dan mall. Namun dari sekian banyak tempat perbelanjaan seperti itu membuat lebih banyak pilihan dan kurang real karena tidak bisa mencoba dan memadupadankan dengan selera yang sesuai dengan konsumen. Oleh sebab itu, masyarakat harus tau tentang keberadaan produk kami. Untuk itu, kami telah menyusun strategi pemasaran. Tahapan-tahapannya sebagai berikut:
a.       Pengembangan produk
Nugget memang telah banyak dijumpai di berbagai pusat perbelanjaan. Namun kami memberikan rasa yang berbeda dan tampak lebih menarik serta lebih unik dengan bahan-bahan yang baru. Nugget tahu ini akan menambah cita rasa baru di dunia kuliner. Dengan adanya nugget tahu, diharapkan akan menambah variasi nugget baru.
b.      Pengembangan wilayah pemasaran
Area pemasaran utama adalah di sekitar daerah tempat tinggal kami. Contohnya di kalangan remaja. Promosi dilakukan melalui kelompok-kelompok kecil sampai pada tingkat yang lebih tinggi.
c.       Kegiatan promosi
Promosi merupakan bagian dari proses pemasaran. Promosi sangat mempengaruhi kelancaran dan keberhasilan suatu usaha. Kami melakukan promosi produk kami pada tahap awal melalui mulut ke mulut. Selanjutnya dilakukan juga promosi melalui media sosial yang kini marak di dunia maya.

2.      Strategi Produksi
Kami memproduksi nugget yang belum ada dipasaran. Kami juga memberikan pilihan bentuk nugget tahu yang menarik kepada konsumen. Kami berusaha menciptakan suatu pembaharuan di dunia makanan khususnya nugget. Proses produksi kami tidak dilakukan sewaktu-waktu saja. Namun berjalan terus menerus selama ada waktu luang.

3.      Strategi Penetapan Harga
Harga merupakan suatu variabel yang mempunyai peranan penting dalam dunia bisnis. Harga menunjukkan level dari suatu produk juga menjadi acuan tentang bagaimana produk itu seharusnya bila dilihat dari harganya. Harga yang kami tawarkan di sini, kami sesuaikan dengan sasaran kami yaitu para masyarkat menengah ke bawah. Harga kami sesuaikan dengan bahan dan berbagai variable lain. Kami akan mengutamakan kualitas makanan, dan tidak hanya berfokus mengambil keuntungan semata.

4.      Rencana Pengembangan Produksi
Rencana-rencana pengembangan produksi kami antara lain:
a.       Memperluas wawasan dibidang makanan khususnya nugget
b.      Menemukan dan menciptakan cara terbaru dalam membuat nugget
c.       Memperluas berbagai cita rasa nugget
d.      Meningkatkan produksi
6.      Analisis resiko usaha dan antisipasinya

B.     Struktur Organisasi





 BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Nugget tahu merupakan suatu jenis makanan yang kami buat dengan memberikan variasi rasa dan bentuk yang unik serta baru. Produk kami ini bertujuan membantu masyarakat untuk lebih sering mengonsumsi tahu dalam sehari-hari. Karena, tahu dapat menurunkan kadar kolesterol, mencegah kanker payudara, serta mencegah penuaan dini pada masyarakat. Proses pemasaran pada tahap awal kami lakukan melalui mulut ke mulut, lalu tahap selanjutnya dilakukan melalui media sosial seperti blog, facebook, twitter. Harga yang kami tetapkan cukup terjangkau oleh masyarakat menengah ke bawah. Kami juga menyediakan pelayanan pemesanan nugget.

B.     Saran
Produk kami mengutamakan kepada unsur kesehatan yang terkandung di dalamnya. Sehingga membedakan nugget yang sudah ada dipasaran dengan nugget produk kami. Oleh karena itu, keterampilan dan keahlian menjadi sangat penting dalam produksi kami.